Hakikat Istighfar dan Taubat
Sebagian orang menyangka, bahwa istighfar dan taubat hanyalah dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan: (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya). Tetapi kalimat-kalimat tersebut tidak mem-bekas di dalam hati, juga tidak berpe-ngaruh dalam perbuatan anggota badan.
Imam An-Nawawi menjelaskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, maka syaratnya ada tiga :
Pertama, menjauhi maksiat tersebut.
Kedua, menyesali perbuatan (maksiat)nya.
Ketiga, berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubat itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu :
Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk melakukannya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf." ( Riyadhush Shalihin, hal. 33).
Sedangkan istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah, "Meminta (ampun-an) dengan ucapan dan perbuatan." Adapun firman Allah:
(Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengam-pun) tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta." (Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, hal. 362).
Dasar (Syari'at) Hukum Islam Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki.
1. Apa yang disebutkan AllahSubhannahu wa Ta'ala tentang Nuh alaihis salam yang berkata kepada kaumnya:
"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12).
Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan istighfar:
*
Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firmanNya:
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."
*
Hujan yang lebat.
*
Harta dan anak yang banyak.
*
Allah akan menjadikan untuk-nya kebun-kebun.
*
Allah akan menjadikan untuk-nya sungai-sungai. (Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathit Tanzil, hal. 274, Fathul Qadir, 5/417).
Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: "Bahwasanya Umar t keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) sampai beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka beliau membaca ayat : "Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengi-rimkan hujan kepadamu dengan lebat." (Tafsir Al-Khazin, 7/154; Ruhul Ma'ani, 29/72).
Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Beristighfarlah kepada Allah!'. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfarlah kepada Allah!' Yang lain lagi berkata, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!' maka beliau mengatakan kepadanya, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula), 'Beristigh-farlah kepada Allah!'."
Lalu Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan bermacam- macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.' Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:
"Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengi-rimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan meng-adakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh: 10-12). ( Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula, Tafsirul Kasysyaf, 4/192 dan Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123).
2. Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan tentang seruan Hud alaihis shalatu was salam kepada kaumnya agar beristighfar:
"Dan (Hud berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menunrunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menam-bahkan kekuatan kepada kekuatan-mu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'."(Hud: 52).
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: "Kemudian Hud alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah memudah-kan rizkinya , melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman:
"Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu." (Tafsir Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51).
3. Ayat lain adalah firman Allah:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertau-bat kepadaNya. (Jika kamu mengerja-kan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutama-an (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat."(Hud: 3).
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kepada orang yang melakukannya berupa kenik-matan yang baik sampai pada waktu yang ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditetapkan." (Adhwa'ul Bayan, 3/9).
4. Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan setiap kesempitannya kelapangan dan Allah memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangkanya."(Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi milik-nya; Sunan Abi Daud, no. 1515, 4/267; Kitabus Sunan Al-Kubra, no. 2/10290, 6/118; Sunan Ibnu Majah, no. 3864, 2/339; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, 4/292). Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan shahih)." (Aunul Ma'bud, 4/267).
Dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tiga hasil yang dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, rizki dari Allah Yang Maha Memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak terdetik dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki agar bersegera memperbanyak istighfar (memohon ampun) dan taubat, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.
Wallahu a'lam. (ain).
Thursday, March 25, 2010
Hadiah yang Paling Berharga Adalah Senyum
Terkadang hadiah yang paling berharga dan berkesan adalah senyum dan kata-kata yang baik lagi santun. Ketika Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk saling memberikan hadiah, dengan tujuan untuk menghilangkan permusuhan atau kemarahan diantara mereka sehingga kemudian mendatangkan persahabatan dan kecintaan. Beliau bersabda: Saling berjabat-tanganlah kalian, maka akan hilang kedengkian, dan saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai.
Sesungguhnya, manusia dengan tabiatnya, merasa bahagia ketika mendengar ada orang yang memujinya atau mengkhususkannya, ataupun menyanjungnya dengan sanjungan yang layak, atau bila ada orang yang menghormati dirinya. Maka dia akan merasa dianggap harga dirinya, dan akan bertambah rasa saling mencintai antar sesama.
Sesungguhnya hadiah, adalah satu dari sekian banyak sarana untuk menciptakan suasana yang bermakna pujian, sanjungan, dan penghormatan diantara sesama, sebab dengan itu keinginan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dari sesama kita bisa tercapai Misalnya dari ketetanggaan, kita memberikan hadiah dengan penuh senyum dan ucapan-ucapan yang santun akan menggenapkan maksud dan tujuan yang pada gilirannya akan menambah kedekatan hubungan kemanusiaan, dan semakin berkembang rasa cinta dan penghormatan.
Dan sesuai dengan apa yang dikemukakan psikolog, Sesungguhnya hadiah termasuk salah satu jenis solusi kejiwaan untuk mengobati kegersangan jiwa itu sendiri, dimana hadiah tersebut merupakan implementasi penghargaan, penghormatan, kekaguman kepada orang lain yang bermuara pada membahagiakan orang lain.
Kalau hadiah itu diberikan kepada orang yang paling dekat kepada kita, seperti seorang suami kepada isteri, ataupun sebaliknya, atau seorang anak atau puteri kepada kedua orang tuanya atau pun sebaliknya, atau seorang sahabat atau kawan jauh, maka itu semua sangat bernilai dihadapan orang yang menerima hadiah.
Sesungguhnya, nilai hadiah bukanlah pada nilai nominalnya, melainkan pada kedudukannya yang bisa memaknakan perasaan kemanusiaan. Yang demikian krena manusia butuh kepada bantuan kejiwaan secara terus-menerus, baik dari orang di sekelilingnya, ataupun kerabat, dalam berbagai jenis hadiahnya. Contohnya: ketika mengunjungi orang sakit disamping memang hal itu wajib, akan tetapi dengan memberikan hadiah, ... kata-kata yang memotivasinya adalah hadiah, ...surat-menyurat adalah hadiah, ... dan hadiah adalah bermacam-macam.
Sesungguhnya hadiah yang baik akan melanggengkan persahabatan, dan orang yang menerima hadiah pun menganggapnya sebagai sesuatuyang indah. Orang yang memberinya pun akan bahagia karena bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada sahabatnya. Sesungguhnya hadiah merupakan solusi terhadap segala problematika persahabatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dimana ia bisa menambah kuat ikatan kekerabatan, antara pemberi dan penerima hadiah.
Oleh karena itu, sudah semestinya, kita semuanya, yang besar maupun kecil untuk membiasakan diri untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Kita memberinya hadiah, ataupun kenang-kenangan pada berbagai kesempatan yang ada dan kita tambahkan dengan dua hadiah lainnya, yaitu senyum yang ikhlas dan ucapan yang santun yang keduanya tidak perlu membeli
Sesungguhnya, manusia dengan tabiatnya, merasa bahagia ketika mendengar ada orang yang memujinya atau mengkhususkannya, ataupun menyanjungnya dengan sanjungan yang layak, atau bila ada orang yang menghormati dirinya. Maka dia akan merasa dianggap harga dirinya, dan akan bertambah rasa saling mencintai antar sesama.
Sesungguhnya hadiah, adalah satu dari sekian banyak sarana untuk menciptakan suasana yang bermakna pujian, sanjungan, dan penghormatan diantara sesama, sebab dengan itu keinginan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dari sesama kita bisa tercapai Misalnya dari ketetanggaan, kita memberikan hadiah dengan penuh senyum dan ucapan-ucapan yang santun akan menggenapkan maksud dan tujuan yang pada gilirannya akan menambah kedekatan hubungan kemanusiaan, dan semakin berkembang rasa cinta dan penghormatan.
Dan sesuai dengan apa yang dikemukakan psikolog, Sesungguhnya hadiah termasuk salah satu jenis solusi kejiwaan untuk mengobati kegersangan jiwa itu sendiri, dimana hadiah tersebut merupakan implementasi penghargaan, penghormatan, kekaguman kepada orang lain yang bermuara pada membahagiakan orang lain.
Kalau hadiah itu diberikan kepada orang yang paling dekat kepada kita, seperti seorang suami kepada isteri, ataupun sebaliknya, atau seorang anak atau puteri kepada kedua orang tuanya atau pun sebaliknya, atau seorang sahabat atau kawan jauh, maka itu semua sangat bernilai dihadapan orang yang menerima hadiah.
Sesungguhnya, nilai hadiah bukanlah pada nilai nominalnya, melainkan pada kedudukannya yang bisa memaknakan perasaan kemanusiaan. Yang demikian krena manusia butuh kepada bantuan kejiwaan secara terus-menerus, baik dari orang di sekelilingnya, ataupun kerabat, dalam berbagai jenis hadiahnya. Contohnya: ketika mengunjungi orang sakit disamping memang hal itu wajib, akan tetapi dengan memberikan hadiah, ... kata-kata yang memotivasinya adalah hadiah, ...surat-menyurat adalah hadiah, ... dan hadiah adalah bermacam-macam.
Sesungguhnya hadiah yang baik akan melanggengkan persahabatan, dan orang yang menerima hadiah pun menganggapnya sebagai sesuatuyang indah. Orang yang memberinya pun akan bahagia karena bisa memberikan sesuatu yang berharga kepada sahabatnya. Sesungguhnya hadiah merupakan solusi terhadap segala problematika persahabatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dimana ia bisa menambah kuat ikatan kekerabatan, antara pemberi dan penerima hadiah.
Oleh karena itu, sudah semestinya, kita semuanya, yang besar maupun kecil untuk membiasakan diri untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Kita memberinya hadiah, ataupun kenang-kenangan pada berbagai kesempatan yang ada dan kita tambahkan dengan dua hadiah lainnya, yaitu senyum yang ikhlas dan ucapan yang santun yang keduanya tidak perlu membeli
Erti Sebuah Nama...
Memberi nama anak, di dalam Islam mendapat perhatian yang cukup besar. Karena nama merupakan identitas diri dan sarana untuk saling memahami dalam berkomunikasi dengan orang lain. Nama, bagi seorang bayi yang dilahirkan merupakan hiasan, tumpuan dan sekaligus syi'ar yang dengannya ia dipangggil ketika di dunia maupun di akhirat. Rasulullah saw sering mengganti nama seseorang yang baru masuk Islam, jika sebelumnya nama orang tersebut tidak baik di dalam pandangan Islam.
Beberapa masalah Seputar Nama
Pentingnya nama dan pengaruhnya terhadap anak, orang tua dan ummat.
Nama, yang dalam bahasa Arabnya adalah ism, menurut sebagian orang merupakan bentukan dari kata wasm yang berarti tanda ('alamah). Maka dengan nama seseorang dapat diketahui dan dia menjadi tanda bagi yang bersangkutan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman :
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. 19:7)
Sebagian yang lain mengatakan bahwa ia berasal dari kata as sumuw yang berarti tinggi. Maka nama adalah merupakan tanda yang menggambarkan ketinggian atau kaluhuran seseorang yang memiliki nama tersebut.
Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi yang terlahir, merupakan ciri spesifik yang membedakan dia dengan orang lain. Nama adalah yang pertama dilakukan seorang ayah terhadap bayi sebagai tanda pewaris dan penerus regenerasi. Nama juga merupakan sarana pertama bagi manusia untuk terjun di kancah masyarakat.
Nama meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi memiliki nilai yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga nama daripada hartanya, jangan sampai namanya direndahkan, ditentang atau dimusuhi.
Islam sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan nama yang baik, karena pada umumnya nama memiliki pengaruh terhadap seseorang yang memilikinya, dalam baik ataupun buruknya. Dia merupakan cerminan pemikiran orang tua, apakah dia seorang yang selamat dan mengikuti petunjuk Nabi saw atau memiliki pemikiran- pemikiran yang tercemar dan bahkan menyimpang.
Nama yang baik akan memberikan kepuasan bagi seorang anak. Ketika anak memasuki usia banyak bertanya (antara 5 hingga 7 tahun) terkadang mereka melontarkan pertanyaan, "Mengapa ayah memberi nama aku demikian? Apa artinya?
Alangkah bahagianya sang ayah kalau dia memberi nama yang baik, sehingga dia dapat memberikan jawaban yang menyenangkan buat sang anak. Namun kalau ternyata nama yang dia berikan adalah buruk maka terbukalah kebodohan dan kedangkalan pemikirannya di hadapan sang anak. Dan nama baik yang diberikan kepada anak merupakan salah satu pendidikan paling dini untuk mereka. Ketika seorang anak tahu bahwa namanya adalah sesuatu yang mulia dan tinggi, maka dia akan bercita-cita setinggi dan semulia namanya sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua.
Maka ada benarnya ungkapan sebagian orang, “Katakan siapa namamu, maka aku akan tahu siapa ayahmu.” Artinya dengan mengetahui nama seorang anak maka dapat diterka bagaimana sifat, pemikiran dan gaya hidup orang tuanya.
Waktu Pemberian Nama
Ada tiga waktu yang disunnahkan dalam memberikan nama anak, yaitu:
* Memberi nama bayi pada saat dia dilahirkan.
* Memberinya nama dalam masa tiga hari setelah kelahirannya.
* Memberi nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya.
Perbedaan ini masuk dalam kategori tanawwu' (variasi), sehingga kita dapat memilih mana saja yang kita kehendaki, alhamdulillah.
Memberi Nama Adalah Hak Ayah
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang lebih berhak memberi nama seorang anak adalah ayah. Jika ada perbedaan atau perselisihan antara ayah dengan ibu maka yang berlaku adalah panamaan dari ayah. Seorang ibu jika kurang setuju hendaknya mengajak musyawarah dengan baik, dengan penuh kelembutan dan jalinan kasih.
Boleh juga minta dicarikan nama kepada orang yang terpercaya dalam agamanya (shalih) agar memilihkan nama yang sesuai dengan sunnah. Banyak diantara shahabat yang menghadap Nabi Shalallaahu alaihi wasalam serta meminta beliau agar memberi nama untuk anak-anak mereka.
Anak Dinisbatkan Kepada Ayah
Sebagaimana pemberian nama adalah hak ayah maka penisbatan anak juga kepada ayahnya. Dia dipanggil dengan menisbatkan kepada ayahnya, bukan kepada ibunya, misalkan fulan bin fulan bukan bin fulanah, kalau anak perempuan fulanah binti fulan, demikian pula dalam panggilan.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,artiya,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (al-Ahzab:5)
Memilih Nama Yang Baik
Seorang ayah wajib memilihkan nama yang baik untuk anaknya, dari segi lafal maupun maknanya, serta masih dalam koridor syara'. Diantara ciri nama yang baik adalah: Indah, sejuk di lisan, enak didengar, mengandung makna yang mulia dan sifat yang benar dan jujur, jauh dari segala makna dan sifat yang diharamkan atau dibenci agama seperti nama asing yang tak jelas, tasyabbuh dengan orang kafir serta segala yang memiliki arti buruk.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, "Merupakan hak seorang anak terhadap ayahnya adalah memilihkan untuknya ibu yang baik, memberinya nama yang baik dan mewariskan kepadanya adab (pendidikan) yang baik."
Tingkatan Nama Yang Dicintai
Tingkatan nama yang dicintai Allah serta dibolehkan dalam Islam adalah sebagai berikut:
* Abdullah dan Abdurrahman, berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallaahu anhu yang diriwayatkan oleh imam Muslim. Dan tak kurang dari tiga ratus shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang memiliki nama Abdullah.
* Abdun (penghambaan)yang disambungkan dengan Asam’ul Husna selain yang tersebut di atas, seperti Abdul Aziz, Abdul Malik, Abdul Majid dan sebagainya.
* Nama-nama nabi dan rasul, karena mereka adalah penghulu bagi umat manusia dan merupakan orang-orang mulia serta terpilih. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam juga pernah memberi nama sebagian shahabat dengan nama para nabi sebelum beliau.
* Nama orang-orang shalih, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari al-Mughirah bin Syu'bah Radhiallaahu anha bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa memberi nama dengan nama para nabi dan orang shalih sebelum beliau. Termasuk pemuka shalihin adalah para shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, Tabi'in dan para imam kaum muslimin.
* Segala nama yang mencerminkan kejujuran dan kebaikan manusia.
Nama-Nama Yang Dilarang
Diantara-nama-nama yang dilarang adalah sebagai berikut:
* Segala nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Ka'bah, Abdusy Syamsi (hamba matahari), Abdul Husain dan lain-lain.
* Memberi nama dengan nama-nama Allah, seperti Arrahman, al Khaliq, dan semisalnya.
* Nama-nama a'jam yang berasal dari orang kafir dan merupakan ciri atau kekhususan mereka. Ini banyak menimpa kaum muslimin saat ini, mereka banyak mengimpor nama-nama kafir dari Eropa dan Amerika seperti Petrus,George,Diana,Suzan dan sebagainya.
* Nama-nama patung atau berhala yang disembah selain Allah seperti Latta, Uzza, Hubal, (Brahma, Wisnu, Syiwa-pen).
* Nama klaim dusta, mengandung unsur kebohongan yang berlebihan, mentazkiyah (menyucikan) diri . Diantara contoh nama yang masuk kategori ini adalah Malikul Amlak (Muluk), Sulthanus Shalatin, Syahinsyah, yang semuanya memiliki arti hampir sama yaitu raja diraja. Juga nama Hakimul Hukkam yang artinya hakim dari segala hakim.
* Nama-nama setan dan iblis, hal ini sebagimana yang dikatakan Imam Ibnul Qayim.
Nama-Nama Yang Makruh
* Nama yang membuat lari dan ngeri hati seperti Harb (perang), Murrah (pahit), Khanjar (pisau belati). Juga nama-nama yang memiliki makna penyakit seperti Suham (penyakit unta), Suda'(pusing), Dumal (bisul).
* Nama-nama yang mengundang syahwat, terutama bagi para wanita, seperti Fatin atau Fitnah (dengan kecantikannya), Syadiyah (penyanyi dengan suara merdu).
* Nama-nama orang fasiq, artis atau bintang film, penyanyi dan pemusik.
* Nama yang menunjukkan makna dosa atau maksiat seperti zhalim, sariq (pencuri). Juga nama yang tidak diminati masyarakat karena buruk, seperti Kannaz (penumpuk harta), Bakhil dan semisalnya.
* Nama-nama binatang yang dikenal buruk seperti Khimar (keledai), Kalb (anjing),Hanasy (lalat),Qunfudz (landak) dan lain-lain.
* Nama-nama dobel seperti Ahmad Muhammad, Said Ahmad dan semisalnya, karena -dimasyarkat Arab- menjadikan bingung disebabkan adanya unsur iltibas (ketidakjelasan).
* Sebagian ulama juga membenci pemberian nama dengan nama-nama malaikat, seperti Jibril, Mikail, Israfil dan lain-lain.
* Sebagian ulama juga memakruhkan pemberian nama dengan surat-surat dari al-Qur'an seperti Thaha, Hamim, Yasin.
Adapun yang tersebar di masyarAkat bahwa Thaha atau Yasin adalah nama lain untuk Nabi Muhammad saw, maka itu sama sekali tidak benar. Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah di dalam kitab “Tuhfatul Maudud” hal 109.
Sudah saatnya kaum muslimin menyadari pentingnya nama yang baik dan islami. Karena nama-nama yang baik insya Allah akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi pribadi, keluarga dan masyarakat. Tidak ada salahnya jika seseorang yang terlanjur memiliki nama atau memberi nama yang buruk, nama kufur dan nama syirik, segera menggantinya dengan nama-nama yang dianjurkan atau dibolehkan dalam Islam. Mengganti nama yang buruk dengan nama yang baik merupakan sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Wallahu a’lam.
Beberapa masalah Seputar Nama
Pentingnya nama dan pengaruhnya terhadap anak, orang tua dan ummat.
Nama, yang dalam bahasa Arabnya adalah ism, menurut sebagian orang merupakan bentukan dari kata wasm yang berarti tanda ('alamah). Maka dengan nama seseorang dapat diketahui dan dia menjadi tanda bagi yang bersangkutan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman :
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. 19:7)
Sebagian yang lain mengatakan bahwa ia berasal dari kata as sumuw yang berarti tinggi. Maka nama adalah merupakan tanda yang menggambarkan ketinggian atau kaluhuran seseorang yang memiliki nama tersebut.
Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi yang terlahir, merupakan ciri spesifik yang membedakan dia dengan orang lain. Nama adalah yang pertama dilakukan seorang ayah terhadap bayi sebagai tanda pewaris dan penerus regenerasi. Nama juga merupakan sarana pertama bagi manusia untuk terjun di kancah masyarakat.
Nama meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi memiliki nilai yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga nama daripada hartanya, jangan sampai namanya direndahkan, ditentang atau dimusuhi.
Islam sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan nama yang baik, karena pada umumnya nama memiliki pengaruh terhadap seseorang yang memilikinya, dalam baik ataupun buruknya. Dia merupakan cerminan pemikiran orang tua, apakah dia seorang yang selamat dan mengikuti petunjuk Nabi saw atau memiliki pemikiran- pemikiran yang tercemar dan bahkan menyimpang.
Nama yang baik akan memberikan kepuasan bagi seorang anak. Ketika anak memasuki usia banyak bertanya (antara 5 hingga 7 tahun) terkadang mereka melontarkan pertanyaan, "Mengapa ayah memberi nama aku demikian? Apa artinya?
Alangkah bahagianya sang ayah kalau dia memberi nama yang baik, sehingga dia dapat memberikan jawaban yang menyenangkan buat sang anak. Namun kalau ternyata nama yang dia berikan adalah buruk maka terbukalah kebodohan dan kedangkalan pemikirannya di hadapan sang anak. Dan nama baik yang diberikan kepada anak merupakan salah satu pendidikan paling dini untuk mereka. Ketika seorang anak tahu bahwa namanya adalah sesuatu yang mulia dan tinggi, maka dia akan bercita-cita setinggi dan semulia namanya sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua.
Maka ada benarnya ungkapan sebagian orang, “Katakan siapa namamu, maka aku akan tahu siapa ayahmu.” Artinya dengan mengetahui nama seorang anak maka dapat diterka bagaimana sifat, pemikiran dan gaya hidup orang tuanya.
Waktu Pemberian Nama
Ada tiga waktu yang disunnahkan dalam memberikan nama anak, yaitu:
* Memberi nama bayi pada saat dia dilahirkan.
* Memberinya nama dalam masa tiga hari setelah kelahirannya.
* Memberi nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya.
Perbedaan ini masuk dalam kategori tanawwu' (variasi), sehingga kita dapat memilih mana saja yang kita kehendaki, alhamdulillah.
Memberi Nama Adalah Hak Ayah
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang lebih berhak memberi nama seorang anak adalah ayah. Jika ada perbedaan atau perselisihan antara ayah dengan ibu maka yang berlaku adalah panamaan dari ayah. Seorang ibu jika kurang setuju hendaknya mengajak musyawarah dengan baik, dengan penuh kelembutan dan jalinan kasih.
Boleh juga minta dicarikan nama kepada orang yang terpercaya dalam agamanya (shalih) agar memilihkan nama yang sesuai dengan sunnah. Banyak diantara shahabat yang menghadap Nabi Shalallaahu alaihi wasalam serta meminta beliau agar memberi nama untuk anak-anak mereka.
Anak Dinisbatkan Kepada Ayah
Sebagaimana pemberian nama adalah hak ayah maka penisbatan anak juga kepada ayahnya. Dia dipanggil dengan menisbatkan kepada ayahnya, bukan kepada ibunya, misalkan fulan bin fulan bukan bin fulanah, kalau anak perempuan fulanah binti fulan, demikian pula dalam panggilan.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,artiya,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (al-Ahzab:5)
Memilih Nama Yang Baik
Seorang ayah wajib memilihkan nama yang baik untuk anaknya, dari segi lafal maupun maknanya, serta masih dalam koridor syara'. Diantara ciri nama yang baik adalah: Indah, sejuk di lisan, enak didengar, mengandung makna yang mulia dan sifat yang benar dan jujur, jauh dari segala makna dan sifat yang diharamkan atau dibenci agama seperti nama asing yang tak jelas, tasyabbuh dengan orang kafir serta segala yang memiliki arti buruk.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, "Merupakan hak seorang anak terhadap ayahnya adalah memilihkan untuknya ibu yang baik, memberinya nama yang baik dan mewariskan kepadanya adab (pendidikan) yang baik."
Tingkatan Nama Yang Dicintai
Tingkatan nama yang dicintai Allah serta dibolehkan dalam Islam adalah sebagai berikut:
* Abdullah dan Abdurrahman, berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallaahu anhu yang diriwayatkan oleh imam Muslim. Dan tak kurang dari tiga ratus shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang memiliki nama Abdullah.
* Abdun (penghambaan)yang disambungkan dengan Asam’ul Husna selain yang tersebut di atas, seperti Abdul Aziz, Abdul Malik, Abdul Majid dan sebagainya.
* Nama-nama nabi dan rasul, karena mereka adalah penghulu bagi umat manusia dan merupakan orang-orang mulia serta terpilih. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam juga pernah memberi nama sebagian shahabat dengan nama para nabi sebelum beliau.
* Nama orang-orang shalih, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari al-Mughirah bin Syu'bah Radhiallaahu anha bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa memberi nama dengan nama para nabi dan orang shalih sebelum beliau. Termasuk pemuka shalihin adalah para shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, Tabi'in dan para imam kaum muslimin.
* Segala nama yang mencerminkan kejujuran dan kebaikan manusia.
Nama-Nama Yang Dilarang
Diantara-nama-nama yang dilarang adalah sebagai berikut:
* Segala nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul Ka'bah, Abdusy Syamsi (hamba matahari), Abdul Husain dan lain-lain.
* Memberi nama dengan nama-nama Allah, seperti Arrahman, al Khaliq, dan semisalnya.
* Nama-nama a'jam yang berasal dari orang kafir dan merupakan ciri atau kekhususan mereka. Ini banyak menimpa kaum muslimin saat ini, mereka banyak mengimpor nama-nama kafir dari Eropa dan Amerika seperti Petrus,George,Diana,Suzan dan sebagainya.
* Nama-nama patung atau berhala yang disembah selain Allah seperti Latta, Uzza, Hubal, (Brahma, Wisnu, Syiwa-pen).
* Nama klaim dusta, mengandung unsur kebohongan yang berlebihan, mentazkiyah (menyucikan) diri . Diantara contoh nama yang masuk kategori ini adalah Malikul Amlak (Muluk), Sulthanus Shalatin, Syahinsyah, yang semuanya memiliki arti hampir sama yaitu raja diraja. Juga nama Hakimul Hukkam yang artinya hakim dari segala hakim.
* Nama-nama setan dan iblis, hal ini sebagimana yang dikatakan Imam Ibnul Qayim.
Nama-Nama Yang Makruh
* Nama yang membuat lari dan ngeri hati seperti Harb (perang), Murrah (pahit), Khanjar (pisau belati). Juga nama-nama yang memiliki makna penyakit seperti Suham (penyakit unta), Suda'(pusing), Dumal (bisul).
* Nama-nama yang mengundang syahwat, terutama bagi para wanita, seperti Fatin atau Fitnah (dengan kecantikannya), Syadiyah (penyanyi dengan suara merdu).
* Nama-nama orang fasiq, artis atau bintang film, penyanyi dan pemusik.
* Nama yang menunjukkan makna dosa atau maksiat seperti zhalim, sariq (pencuri). Juga nama yang tidak diminati masyarakat karena buruk, seperti Kannaz (penumpuk harta), Bakhil dan semisalnya.
* Nama-nama binatang yang dikenal buruk seperti Khimar (keledai), Kalb (anjing),Hanasy (lalat),Qunfudz (landak) dan lain-lain.
* Nama-nama dobel seperti Ahmad Muhammad, Said Ahmad dan semisalnya, karena -dimasyarkat Arab- menjadikan bingung disebabkan adanya unsur iltibas (ketidakjelasan).
* Sebagian ulama juga membenci pemberian nama dengan nama-nama malaikat, seperti Jibril, Mikail, Israfil dan lain-lain.
* Sebagian ulama juga memakruhkan pemberian nama dengan surat-surat dari al-Qur'an seperti Thaha, Hamim, Yasin.
Adapun yang tersebar di masyarAkat bahwa Thaha atau Yasin adalah nama lain untuk Nabi Muhammad saw, maka itu sama sekali tidak benar. Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah di dalam kitab “Tuhfatul Maudud” hal 109.
Sudah saatnya kaum muslimin menyadari pentingnya nama yang baik dan islami. Karena nama-nama yang baik insya Allah akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi pribadi, keluarga dan masyarakat. Tidak ada salahnya jika seseorang yang terlanjur memiliki nama atau memberi nama yang buruk, nama kufur dan nama syirik, segera menggantinya dengan nama-nama yang dianjurkan atau dibolehkan dalam Islam. Mengganti nama yang buruk dengan nama yang baik merupakan sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Wallahu a’lam.
Kenapa kita meninggalkan solat???
Subhanallah dalam keadaan bagaimanapun shalat 5 waktu tidak boleh ditinggalkan !!!
(Lihatlah photo-photo tentang shalat dalam album لم يتركوها)
1.perhatikanlah wahai yang melupakannya,bagaimana mereka tidak melupakan shalat !!!
2.perhatikanlah wahai yang melalaikannya,bagaimana mereka tidak melalaikan shalat !!!
3.perhatikanlah wahai yang meninggalkannya,bagaimana mereka tidak meninggalkan shalat !!!
Sampai sampai.........................................
Diatas salju
diatas batu
diatas trotoar
di lapangan
dijalan
dalam mengais rezeki(nafkah)
keadaan macet(berdesak-desakan)
anak muda(remaja)
orang tua
perempuan
anak kecil
dinegara kafir
diatas puing-puing
waktu hujan
ditangga
diatas mobil
distation kereta api
didalam laut,
dalam keadaan ditawan musuh
orang cacat !!!
subhanallah subhanallah merela tidak meninggalkan sholat.
(liatlah photo2 kondosi shalat mereka dalam album لم يتركوها)
lalu kenapa kamu meninggalkan sholat???
kenapa???????????
tidakkah kamu mengetahui sesungguhnya
- dia adalah sebaik-baiknya amalan yang disukai allah swt
- dia adalah amalan tertinggi dalam ibadah, dan
- dia adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt
Jika kalian tidak menjaga sholatnya,
dan tidak shalat sebagaimana Allah swt perintahkan.
maka akan datang suatu hari dimana kalian akan dishalatkan,
pada hari itu kalian tidak akan bisa mengembalikan yang telah berlalu.
Kalian akan dimasukan kedalam lubang kubur,dengan tidak membawa apa-apa kecuali amalan di dunia.
(Lihatlah photo seorang jenazah yang sedang dishalatkan dalam album لم يتركوها)
Jika kalian senantiasa menjaga shalatnya,maka Allah swt akan memuliakan kalian ketika diambil nyawanya.
(Lihatlah photo seorang jamaah haji yang meninggal dimekkah dalam keadaan berdoa kepada allah swt dengan mengangkat kedua tangannya, dalam album لم يتركوها)
Jika kalian bermalas-malasan,maka kalian akan mati dalam keadaan merugi
Allah swt berfirman : Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Amalan yg pertama kali dihisab dari seorang hamba adl shalatnya. Bila shalat baik mk baik pula seluruh amal sebalik jika shalat rusak mk rusak pula seluruh amalnya.”
Yaa Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang khusyu' dalam sembahyangnya
yaa Allah yang maha mulia
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang istiqomah dalam sembahyangnya
Yaa Allah yang maha pemurah
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang selalu menjaga dalam sembahyangnya
Amiin yaa rabb yaa mujibassaailin
(Lihatlah photo-photo tentang shalat dalam album لم يتركوها)
1.perhatikanlah wahai yang melupakannya,bagaimana mereka tidak melupakan shalat !!!
2.perhatikanlah wahai yang melalaikannya,bagaimana mereka tidak melalaikan shalat !!!
3.perhatikanlah wahai yang meninggalkannya,bagaimana mereka tidak meninggalkan shalat !!!
Sampai sampai.........................................
Diatas salju
diatas batu
diatas trotoar
di lapangan
dijalan
dalam mengais rezeki(nafkah)
keadaan macet(berdesak-desakan)
anak muda(remaja)
orang tua
perempuan
anak kecil
dinegara kafir
diatas puing-puing
waktu hujan
ditangga
diatas mobil
distation kereta api
didalam laut,
dalam keadaan ditawan musuh
orang cacat !!!
subhanallah subhanallah merela tidak meninggalkan sholat.
(liatlah photo2 kondosi shalat mereka dalam album لم يتركوها)
lalu kenapa kamu meninggalkan sholat???
kenapa???????????
tidakkah kamu mengetahui sesungguhnya
- dia adalah sebaik-baiknya amalan yang disukai allah swt
- dia adalah amalan tertinggi dalam ibadah, dan
- dia adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt
Jika kalian tidak menjaga sholatnya,
dan tidak shalat sebagaimana Allah swt perintahkan.
maka akan datang suatu hari dimana kalian akan dishalatkan,
pada hari itu kalian tidak akan bisa mengembalikan yang telah berlalu.
Kalian akan dimasukan kedalam lubang kubur,dengan tidak membawa apa-apa kecuali amalan di dunia.
(Lihatlah photo seorang jenazah yang sedang dishalatkan dalam album لم يتركوها)
Jika kalian senantiasa menjaga shalatnya,maka Allah swt akan memuliakan kalian ketika diambil nyawanya.
(Lihatlah photo seorang jamaah haji yang meninggal dimekkah dalam keadaan berdoa kepada allah swt dengan mengangkat kedua tangannya, dalam album لم يتركوها)
Jika kalian bermalas-malasan,maka kalian akan mati dalam keadaan merugi
Allah swt berfirman : Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Amalan yg pertama kali dihisab dari seorang hamba adl shalatnya. Bila shalat baik mk baik pula seluruh amal sebalik jika shalat rusak mk rusak pula seluruh amalnya.”
Yaa Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang khusyu' dalam sembahyangnya
yaa Allah yang maha mulia
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang istiqomah dalam sembahyangnya
Yaa Allah yang maha pemurah
jadikanlah kita sebagai hamba-hambamu yang selalu menjaga dalam sembahyangnya
Amiin yaa rabb yaa mujibassaailin
CARA MENGUATKAN IMAN
Soal :
“ Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit ?”
Soal :
“ Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit ?”
Jawab :
Riskas kata, di sini nampak bahwa orang yang mengatakan perkataan ini beriman kepada hari akhir dan membenarkannya, padahal dalam hatinya ada sedikit sifat keras kepala. Pada zaman kita sekarang orang yang mempunyai sifat keras kepala seperti ini sangat banyak. Yang menjadi sebabnya adalah sikap menjauhkan diri dari memperhambakan dan merendahkan diri secara sempurna kepada Allah.
Sekiranya manusia mau memperhatikan Al-Qur’an dan merenungkannya, niscaya hatinya akan lembut dan khusyu’ karena Allah berfirman (yang artinya) :
“ Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan takut kepada Allah…”(QS. Al-Hasyr (50) : 21).
Diantara sebab-sebab manusia menjadi bersifat keras kepala adalah karena glamournya kehidupan dunia masa kini dan terfitnah oleh keglamouran ini serta banyaknya kesulitan-kesulitan hidup di dunia. Oleh karena itu, Anda menemukan orang-orang kecil yang tidak memiliki akses kepadanya, mereka justru menjadi orang yang khusyu’ dan lebih banyak menangis daripada orang-orang yang terpandang. Hal ini dapat kita saksikan dan kalian pun dapat menyaksikan orang seperti ini sekarang di lantai-lantai Masjidil Haram.
Anda dapat menemukan remaja-remaja berumur 18 tahun dan yang sebaya dengannya menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan ancaman dan kabar gembira.
Tangis mereka labih keras daripada tangis orang-orang dewasa, karena hati mereka lebih lembut. Hal ini disebabkan mereka belum banyak tergantung kepada dunia dan belum pula terjepit oleh berbagai berbagai kesulitan yang besar atau yang kecil. Oleh karena itu, kita melihat mereka jauh lebih khusyu’ dan hatinya lebih lembut dari pada mereka yang memperoleh akses dunia dan mendapatkan kesempatan mengolah dunia, sehingga hati mereka galau, pikiran mereka bercabang-cabang kesana kemari.
Maka dari itu, nasehat kepada saudara adalah hendaknya hatinya dan pikirannya terfokus pada agama saja, keinginan kuat untuk membaca Al-Qur’an dengan penuh renungan dan perlahan-lahan. Hendaknya ia juga berkemauan keras untuk menelaah hadits-hadits yang membuat kabar gembira dan ancaman agar hatinya menjadi lunak.
“ Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit ?”
Soal :
“ Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit ?”
Jawab :
Riskas kata, di sini nampak bahwa orang yang mengatakan perkataan ini beriman kepada hari akhir dan membenarkannya, padahal dalam hatinya ada sedikit sifat keras kepala. Pada zaman kita sekarang orang yang mempunyai sifat keras kepala seperti ini sangat banyak. Yang menjadi sebabnya adalah sikap menjauhkan diri dari memperhambakan dan merendahkan diri secara sempurna kepada Allah.
Sekiranya manusia mau memperhatikan Al-Qur’an dan merenungkannya, niscaya hatinya akan lembut dan khusyu’ karena Allah berfirman (yang artinya) :
“ Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan takut kepada Allah…”(QS. Al-Hasyr (50) : 21).
Diantara sebab-sebab manusia menjadi bersifat keras kepala adalah karena glamournya kehidupan dunia masa kini dan terfitnah oleh keglamouran ini serta banyaknya kesulitan-kesulitan hidup di dunia. Oleh karena itu, Anda menemukan orang-orang kecil yang tidak memiliki akses kepadanya, mereka justru menjadi orang yang khusyu’ dan lebih banyak menangis daripada orang-orang yang terpandang. Hal ini dapat kita saksikan dan kalian pun dapat menyaksikan orang seperti ini sekarang di lantai-lantai Masjidil Haram.
Anda dapat menemukan remaja-remaja berumur 18 tahun dan yang sebaya dengannya menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan ancaman dan kabar gembira.
Tangis mereka labih keras daripada tangis orang-orang dewasa, karena hati mereka lebih lembut. Hal ini disebabkan mereka belum banyak tergantung kepada dunia dan belum pula terjepit oleh berbagai berbagai kesulitan yang besar atau yang kecil. Oleh karena itu, kita melihat mereka jauh lebih khusyu’ dan hatinya lebih lembut dari pada mereka yang memperoleh akses dunia dan mendapatkan kesempatan mengolah dunia, sehingga hati mereka galau, pikiran mereka bercabang-cabang kesana kemari.
Maka dari itu, nasehat kepada saudara adalah hendaknya hatinya dan pikirannya terfokus pada agama saja, keinginan kuat untuk membaca Al-Qur’an dengan penuh renungan dan perlahan-lahan. Hendaknya ia juga berkemauan keras untuk menelaah hadits-hadits yang membuat kabar gembira dan ancaman agar hatinya menjadi lunak.
MENGENAL HAWA NAFSU DAN AKIBAT DARI MENGIKUTI-NYA
Telah sampai kepada kami beberapa pernyataan tentang masalah ikthilath, muncul berbagai komentar ketika mereka membaca tulisan kami tentang masalah ikhtilath, dan mereka pun melontarkan beberapa syubhat, yang seolah-olah mereka tidak mau menerima kalau ikhtilath itu hukumnya adalah haram, dan mereka pun seolah-olah mengingkari atas pernyataan kami
5.1 Pengertian Hawa Nafsu
Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada perkara yang haram. Dinamakan hawa karena menyeret pelakunya di dunia kepada kehancuran dan di akhirat kepada neraka Hawiyah.” (Mufradat Alfazhil Qur’an, hal. 848).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyeruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (Yusuf: 53).
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rahimahullah-
berkata: “Kebanyakan hawa nafsu itu menyuruh pengekornya kepada kejahatan, yaitu kekejian dan seluruh perbuatan dosa.” Taisîr Al-Karîmirrahmān, hal. 400).
5.2 Hukuman yang di segerakan bagi Pengekor Hawa Nafsu
Allah “azza wa jalla- berfirman: “Apakah mereka mengira
bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan pada mereka
(menunjukkan bahwa) Kami bersegera memeberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mukminun: 55-56).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Barangsiapa menhendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami kehendaki baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al-Isra’: 18).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam,dan Jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Ali Imran: 196-197).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran.” (Al-Jatsiyah: 23).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan mereka memperturutkan hawa nafsunya, maka perumpamaanya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya mengulurkan lidahnya. Dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga).”
(Al-A’raf: 176).
Ibnu Muqfi’ berkata:
Sesungguhnya hawa nafsu itu hina
Jika kamu ikut, kamu menjadi hina.
(Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an: 16/166).
Telah sampai kepada kami beberapa pernyataan tentang masalah ikthilath, muncul berbagai komentar ketika mereka membaca tulisan kami tentang masalah ikhtilath, dan mereka pun melontarkan beberapa syubhat, yang seolah-olah mereka tidak mau menerima kalau ikhtilath itu hukumnya adalah haram, dan mereka pun seolah-olah mengingkari atas pernyataan kami: Bahwa orang yang senang dengan ikthilath dan terus menerus melakukan ikthilath itu mereka kami katakan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Maka kami nyatakan lagi bahwa orang yang senang dengan ikthilath dan terus menerus melakukan ikthilath itu merupakan buah dari
hawa nafsu yang akan melahirkan kehinaan dan kehinaan tidak akan lenyap kecuali dengan cara kembali kepada agama dan berpegang teguh dengannya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Jika kalian berjual beli dengan system ‘ienah, kalian tersibukkan dengan ternak dan
ladang kalian dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu dawud: 3462 dan di shahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11).
Al-Imam Ibnu Qayyim –rahimahulla- berkata: “Kemaksiatan akan mewariskan kehinaan, karena kemuliaan itu hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada Allah.” (Ad-Da’ wad-Dawa’, hal. 94).
Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi –hafidzahullah- berkata: “Terangnya jalan Islam, kejelasan petunjuknya dan
kesempurnaan tuntunannya, akhirnya tidak memberikan alternatif lain kepada seorang muslim selain hanya mengikuti cahaya dan petunjuknya secara keseluruhan, karena itu Allah –azza wa jalla- memerintahkan kepada kaum muslimin dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turuti langkah-langak syaithan sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.”
(Al-Baqarah: 208). (Meraih Kemuliaan Melalui Jihad, hal. 30).
Orang yang menjerumuskan dirinya kedalam ikhtilath maka dia telah lalai dan telah lupa terhadap peringatan Rabbnya: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu kedalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195).
Sebagaimana telah berlalu keterangan tentang akibat dari ikhtilath(baca; fatwa) yang menjerumuskan kepada kebinasaan dan mengakibatkan banyak korban, seorang wanita berkebangsaan Amerika
berprofesi sebagai wartawan yang telah menjelajahi dunia mengatakan: “Cegahlah campur baur antara laki-laki dan perempuan, ikatlah kebebasan wanita, kembalikan ke masa hijab. Hal itu lebih baik bagi kalian dari pada kebebasan ke-edanan bangsa Eropa dan Amerika. Saya telah menyaksikan banyak hal di Amerika, ternyata bangsa Amerika penuh
dengan kebebasan yang mengakibatkan banyak korban.’’
(Al-Mar’ah baina Takrimil Islam wa Da’awi Tahrir, hal. 28).
Dan kebanyakan dari orang-orang yang tidak bisa meninggalkan ikhtilath adalah beberapa alasan, ada karena sebab mentaati orang tua, atau mentaati peraturan yang di rancang oleh makhluk, atau pun yang selainnya, walaupun semuanya itu jelas-jelas mengajak kepada bentuk
penyelisihan terhadap syari’at, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata: “Bahwa siapa saja yang taat kepada makhluk yang memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, niscaya akan mendapatkan kehinaan dan azab Allah. Inilah keberadaan orang yang maksiat kepada utusan Allah dari kalangan orang-orang musyrik, ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani, dan ahli bid’ah serta orang yang curang dari kalangan umat ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah: 4/198).
5.3 Ratap Tangis Para Pengekor Hawa Nafsu
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya dihadapan Rabbnya. (Mereka berkata): “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikan kami (kedunia). Kami akan
mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah: 12).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Mereka menyeru: “Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja, “Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az-Zukhruf: 77).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka. Orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu mengidandarkan kami sebagian api neraka?”
Al-Hafidz Ibnu katsir berkata: “Orang yang lemah yaitu para pengikut akan berkata kepada orang yang sombong yaitu pembesar dan tokohnya: “Kami di dunia mentaati seruanmu berupa kekufuran dan kesesatan, maka dapatkah kamu mengambil siksaan Allah ini sekalipun hanya sedikit.”
(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim: 4/84).
Al-Hafidz Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata: “Allah akan membalas kamu disebabkan perbuatanmu. Masing-masing akan membalas kamu disebabkan perbuatanmu. Masing-masing akan disiksa sesuai dengan kezhalimannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim: 3/540).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan orang-orang yang kufur kepada Rabbnya, (mereka memperoleh) azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang mereka menggelagak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah
lantaran marah. Setiap kali dilemparkan kedalam sekumpulan (orang-orang yang kufur), penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada, Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun” Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata: “Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penhuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.’ (Al-Mulk: 6-10).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan ke dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus).” (Al-Ahzab: 66-67).
Wallahu ta’ala a’lam.
5.1 Pengertian Hawa Nafsu
Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada perkara yang haram. Dinamakan hawa karena menyeret pelakunya di dunia kepada kehancuran dan di akhirat kepada neraka Hawiyah.” (Mufradat Alfazhil Qur’an, hal. 848).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyeruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (Yusuf: 53).
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rahimahullah-
berkata: “Kebanyakan hawa nafsu itu menyuruh pengekornya kepada kejahatan, yaitu kekejian dan seluruh perbuatan dosa.” Taisîr Al-Karîmirrahmān, hal. 400).
5.2 Hukuman yang di segerakan bagi Pengekor Hawa Nafsu
Allah “azza wa jalla- berfirman: “Apakah mereka mengira
bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan pada mereka
(menunjukkan bahwa) Kami bersegera memeberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mukminun: 55-56).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Barangsiapa menhendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami kehendaki baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al-Isra’: 18).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam,dan Jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Ali Imran: 196-197).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran.” (Al-Jatsiyah: 23).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan mereka memperturutkan hawa nafsunya, maka perumpamaanya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya mengulurkan lidahnya. Dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga).”
(Al-A’raf: 176).
Ibnu Muqfi’ berkata:
Sesungguhnya hawa nafsu itu hina
Jika kamu ikut, kamu menjadi hina.
(Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an: 16/166).
Telah sampai kepada kami beberapa pernyataan tentang masalah ikthilath, muncul berbagai komentar ketika mereka membaca tulisan kami tentang masalah ikhtilath, dan mereka pun melontarkan beberapa syubhat, yang seolah-olah mereka tidak mau menerima kalau ikhtilath itu hukumnya adalah haram, dan mereka pun seolah-olah mengingkari atas pernyataan kami: Bahwa orang yang senang dengan ikthilath dan terus menerus melakukan ikthilath itu mereka kami katakan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Maka kami nyatakan lagi bahwa orang yang senang dengan ikthilath dan terus menerus melakukan ikthilath itu merupakan buah dari
hawa nafsu yang akan melahirkan kehinaan dan kehinaan tidak akan lenyap kecuali dengan cara kembali kepada agama dan berpegang teguh dengannya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Jika kalian berjual beli dengan system ‘ienah, kalian tersibukkan dengan ternak dan
ladang kalian dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan mencabut kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu dawud: 3462 dan di shahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 11).
Al-Imam Ibnu Qayyim –rahimahulla- berkata: “Kemaksiatan akan mewariskan kehinaan, karena kemuliaan itu hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada Allah.” (Ad-Da’ wad-Dawa’, hal. 94).
Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi –hafidzahullah- berkata: “Terangnya jalan Islam, kejelasan petunjuknya dan
kesempurnaan tuntunannya, akhirnya tidak memberikan alternatif lain kepada seorang muslim selain hanya mengikuti cahaya dan petunjuknya secara keseluruhan, karena itu Allah –azza wa jalla- memerintahkan kepada kaum muslimin dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turuti langkah-langak syaithan sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.”
(Al-Baqarah: 208). (Meraih Kemuliaan Melalui Jihad, hal. 30).
Orang yang menjerumuskan dirinya kedalam ikhtilath maka dia telah lalai dan telah lupa terhadap peringatan Rabbnya: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu kedalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195).
Sebagaimana telah berlalu keterangan tentang akibat dari ikhtilath(baca; fatwa) yang menjerumuskan kepada kebinasaan dan mengakibatkan banyak korban, seorang wanita berkebangsaan Amerika
berprofesi sebagai wartawan yang telah menjelajahi dunia mengatakan: “Cegahlah campur baur antara laki-laki dan perempuan, ikatlah kebebasan wanita, kembalikan ke masa hijab. Hal itu lebih baik bagi kalian dari pada kebebasan ke-edanan bangsa Eropa dan Amerika. Saya telah menyaksikan banyak hal di Amerika, ternyata bangsa Amerika penuh
dengan kebebasan yang mengakibatkan banyak korban.’’
(Al-Mar’ah baina Takrimil Islam wa Da’awi Tahrir, hal. 28).
Dan kebanyakan dari orang-orang yang tidak bisa meninggalkan ikhtilath adalah beberapa alasan, ada karena sebab mentaati orang tua, atau mentaati peraturan yang di rancang oleh makhluk, atau pun yang selainnya, walaupun semuanya itu jelas-jelas mengajak kepada bentuk
penyelisihan terhadap syari’at, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata: “Bahwa siapa saja yang taat kepada makhluk yang memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, niscaya akan mendapatkan kehinaan dan azab Allah. Inilah keberadaan orang yang maksiat kepada utusan Allah dari kalangan orang-orang musyrik, ahli kitab seperti Yahudi dan Nasrani, dan ahli bid’ah serta orang yang curang dari kalangan umat ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah: 4/198).
5.3 Ratap Tangis Para Pengekor Hawa Nafsu
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya dihadapan Rabbnya. (Mereka berkata): “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikan kami (kedunia). Kami akan
mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah: 12).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Mereka menyeru: “Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja, “Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az-Zukhruf: 77).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka. Orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu mengidandarkan kami sebagian api neraka?”
Al-Hafidz Ibnu katsir berkata: “Orang yang lemah yaitu para pengikut akan berkata kepada orang yang sombong yaitu pembesar dan tokohnya: “Kami di dunia mentaati seruanmu berupa kekufuran dan kesesatan, maka dapatkah kamu mengambil siksaan Allah ini sekalipun hanya sedikit.”
(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim: 4/84).
Al-Hafidz Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata: “Allah akan membalas kamu disebabkan perbuatanmu. Masing-masing akan membalas kamu disebabkan perbuatanmu. Masing-masing akan disiksa sesuai dengan kezhalimannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim: 3/540).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan orang-orang yang kufur kepada Rabbnya, (mereka memperoleh) azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang mereka menggelagak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah
lantaran marah. Setiap kali dilemparkan kedalam sekumpulan (orang-orang yang kufur), penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada, Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun” Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata: “Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penhuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.’ (Al-Mulk: 6-10).
Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan ke dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus).” (Al-Ahzab: 66-67).
Wallahu ta’ala a’lam.
Lakukanlah Hal-hal yang Bermanfaat
Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”
‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”
Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”
Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala (untuknya).”
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”
‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”
Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”
Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala (untuknya).”
Subscribe to:
Comments (Atom)